SELANGOR – Rombongan Pascasarjana Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo melanjutkan rangkaian Short Course Malaysia 2026 dengan melakukan kunjungan akademik ke Masjid Bandar Seri Putra, Selangor, pada Kamis (23/7). Kunjungan tersebut diisi dengan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Jejak Ulama Nusantara” dan “STEM dalam Al-Qur’an”.
Masjid Bandar Seri Putra merupakan salah satu pusat kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di kawasan Bandar Seri Putra, Selangor. Masjid berkonsep modern, ramah jemaah, dan dilengkapi berbagai fasilitas pendidikan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, kajian keislaman, dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
FGD menghadirkan Dato’ Prof. Emeritus Dr. Riza Atiq sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta menelusuri peran para ulama Nusantara dalam membangun tradisi keilmuan, mengembangkan pendidikan Islam, dan menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang mampu berdialog dengan budaya masyarakat setempat.
Pembahasan mengenai “Jejak Ulama Nusantara” memberikan pemahaman bahwa perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari jaringan intelektual para ulama. Mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah, tetapi juga menjadi pendidik, penulis, pemimpin masyarakat, dan penggerak perubahan sosial.
Para ulama Nusantara membangun hubungan keilmuan lintas wilayah melalui perjalanan pendidikan, pengajaran, penulisan kitab, dan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Warisan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi pesantren, madrasah, masjid, dan berbagai pusat pembelajaran yang masih bertahan hingga saat ini.
Selain sejarah ulama Nusantara, FGD juga membahas tema “STEM dalam Al-Qur’an”. STEM merupakan pendekatan yang mengintegrasikan science, technology, engineering, and mathematics atau sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Dalam forum tersebut, peserta diajak memahami bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat ditempatkan dalam kerangka nilai, etika, dan pandangan hidup Islam.
Al-Qur’an mendorong manusia untuk membaca, mengamati, meneliti, dan memikirkan berbagai fenomena alam. Karena itu, pembelajaran STEM tidak hanya diarahkan untuk menguasai kemampuan teknis, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran mengenai kebesaran Allah, tanggung jawab manusia sebagai khalifah, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan kehidupan.
FGD juga memberikan kesempatan kepada Dr. H. Suripto, S.Ag., M.Pd.I., Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Tulungagung, serta Dr. Ahsan Hakim, M.Pd.I., Wakil Rektor I Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, untuk berbagi wawasan mengenai tema yang dibahas.
Setelah pemaparan para narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Mahasiswa Pascasarjana IAD Probolinggo mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, jaringan keilmuan ulama Indonesia dan Malaysia, peran lembaga pendidikan Islam, serta hubungan antara nilai-nilai Al-Qur’an dan perkembangan sains modern.
Mahasiswa juga mendiskusikan bagaimana sejarah Islam Nusantara dapat diajarkan kepada generasi muda secara lebih menarik. Sejarah tidak cukup disampaikan sebagai rangkaian nama, tempat, dan tahun, tetapi perlu dikaji melalui gagasan, strategi dakwah, karya intelektual, serta kontribusi sosial para ulama.
Diskusi berlangsung dinamis karena peserta dapat menghubungkan tema sejarah dengan persoalan pendidikan kontemporer. Jejak ulama Nusantara tidak hanya dipahami sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, berakar pada budaya masyarakat, dan memiliki orientasi global.
Kunjungan ke Masjid Bandar Seri Putra sekaligus memperkuat semangat kerja sama dan pertukaran wawasan antarakademisi serta pimpinan perguruan tinggi Islam. Pascasarjana IAD Probolinggo berharap pengalaman tersebut dapat mendorong mahasiswa menghasilkan penelitian yang menghubungkan sejarah, pendidikan Islam, sains, teknologi, dan kebutuhan masyarakat secara lebih kontekstual.