Ada yang dapat kami bantu? :)

Kembali ke Beranda
IAD Probolinggo Gelar Seminar Internasional di Alor NTT, Perkuat Transformasi Pendidikan Islam dan Kolaborasi Akademik Asia Tenggara

IAD Probolinggo Gelar Seminar Internasional di Alor NTT, Perkuat Transformasi Pendidikan Islam dan Kolaborasi Akademik Asia Tenggara

01 November 2026 3 days ago

Alor, Nusa Tenggara Timur – Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo melalui Program Pascasarjana dan Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPASCA) menggelar Seminar Internasional Pendidikan Agama Islam 2026 yang mempertemukan akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi akademik lintas negara sekaligus mendorong transformasi pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan global.

Seminar bertema “Transformasi Pendidikan Agama Islam di Era Global: Inovasi Pedagogik, Moderasi Beragama, dan Kolaborasi Akademik Asia Tenggara” tersebut diselenggarakan pada Minggu (1/11/2026), bertempat di Aula Kemenhaj, Kementerian Agama Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan dilaksanakan secara hibrida, menggabungkan pertemuan tatap muka dan partisipasi daring melalui Zoom. Seminar diikuti sekitar 160 peserta, terdiri atas 60 tokoh masyarakat, tokoh adat, dan praktisi pendidikan di Kabupaten Alor, serta 100 peserta dari Thailand dan mahasiswa Program Pascasarjana IAD Probolinggo.

Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dan kalangan akademisi dalam membangun pendidikan Islam yang berkualitas, moderat, dan berorientasi global.

Hadirkan Akademisi Indonesia, Malaysia, dan Thailand

Seminar internasional ini menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan dari tiga negara, sekaligus melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah di Kabupaten Alor.

Direktur Pascasarjana IAD Probolinggo, Dr. Khoiriyah, M.Pd.I., hadir sebagai keynote speaker dengan memberikan perspektif mengenai arah pengembangan pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan tuntutan kompetensi global.

 

Sementara itu, Rektor Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, Assoc. Prof. Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I., tampil sebagai narasumber utama yang mengangkat pentingnya transformasi paradigma pendidikan Islam melalui inovasi pedagogik, penguatan karakter, serta integrasi nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dua akademisi internasional turut memperkaya pembahasan, yakni Dr. H. Ahmad Fathoni, Lc., M.A., Phase Leader Secondary Boys, IMAS International School, Kuala Lumpur, Malaysia, serta Dr. Ishlahuddin, S.S., M.A., dosen tetap Fathoni University, Thailand.

Seminar ini juga menghadirkan Dr. Abdullah Rahman Saleh, S.S., M.Pd., akademisi dari STKIP Muhammadiyah Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai narasumber.

Keterlibatan Abdullah Rahman Saleh memberikan perspektif akademik dari perguruan tinggi di kawasan kepulauan dan perbatasan. Kehadirannya memperkuat pembahasan mengenai relevansi transformasi pendidikan Islam dengan kebutuhan masyarakat lokal, pengembangan kualitas tenaga pendidik, dan penguatan kelembagaan pendidikan tinggi.

Perpaduan perspektif akademisi nasional, internasional, dan daerah tersebut menjadikan seminar sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.

Transformasi Pendidikan Islam Tidak Cukup Hanya Mengubah Kurikulum

Salah satu isu utama yang mengemuka dalam seminar adalah perlunya perubahan mendasar dalam paradigma pendidikan Islam.

Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan perubahan sosial menuntut lembaga pendidikan untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam materi yang dibawakan, Benny Prasetiya menempatkan inovasi pedagogik sebagai bagian penting dari transformasi pendidikan Islam. Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi harus mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam perlu dikembangkan secara reflektif dan kontekstual sehingga peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Transformasi tersebut harus tetap mempertahankan dimensi spiritualitas, akhlak, dan karakter sebagai fondasi utama pendidikan Islam.

Dengan demikian, inovasi pendidikan tidak dimaknai sebagai upaya meninggalkan tradisi keilmuan Islam, melainkan mengembangkan tradisi tersebut agar mampu menjawab tantangan masyarakat modern.

Moderasi Beragama dalam Masyarakat Multikultural

Selain inovasi pembelajaran, moderasi beragama menjadi perhatian penting dalam seminar internasional tersebut.

Kabupaten Alor memiliki karakteristik masyarakat yang beragam dari sisi agama, budaya, dan tradisi. Keberagaman ini menjadi modal sosial sekaligus konteks penting dalam pengembangan pendidikan yang inklusif.

Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat, menumbuhkan sikap toleran, serta membangun kesadaran hidup berdampingan secara harmonis.

Keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh adat dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat.

Pendidikan Islam perlu dikembangkan dengan mengintegrasikan nilai-nilai universal ajaran Islam, kearifan lokal, dan komitmen kebangsaan.

Peran Perguruan Tinggi di Kawasan Perbatasan

Kehadiran akademisi STKIP Muhammadiyah Kalabahi, Abdullah Rahman Saleh, menjadi bagian penting dalam memperkuat keterhubungan antara gagasan pendidikan global dan kebutuhan pendidikan di tingkat daerah.

Perguruan tinggi di kawasan perbatasan memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas akses pendidikan, serta mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Kondisi geografis kepulauan tidak seharusnya membatasi kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Sebaliknya, penguatan jejaring antarlembaga pendidikan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses pengetahuan dan meningkatkan kapasitas akademik.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi antara IAD Probolinggo dan STKIP Muhammadiyah Kalabahi memiliki potensi untuk dikembangkan melalui peningkatan kualifikasi dosen, penelitian kolaboratif, pertukaran akademik, dan pengembangan inovasi pembelajaran.

Perguruan tinggi juga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat di kawasan perbatasan.

Bangun Jejaring Akademik Asia Tenggara

Keterlibatan akademisi dari Malaysia dan Thailand memperluas perspektif seminar mengenai perkembangan pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.

Setiap negara memiliki karakteristik sistem pendidikan, pendekatan pembelajaran, serta tantangan sosial yang berbeda. Perbedaan tersebut membuka peluang untuk saling belajar dan mengembangkan praktik pendidikan yang lebih inovatif.

Kolaborasi akademik lintas negara dapat diwujudkan melalui penelitian bersama, publikasi ilmiah internasional, kuliah pakar, pengembangan kurikulum, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi Program Pascasarjana IAD Probolinggo, seminar ini juga menjadi sarana memperkuat atmosfer akademik internasional dan memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa pascasarjana dalam forum internasional diharapkan dapat meningkatkan wawasan keilmuan, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman terhadap dinamika pendidikan Islam dalam konteks global.

Dari Alor untuk Kemajuan Pendidikan Islam

Penyelenggaraan seminar internasional di Kabupaten Alor menunjukkan bahwa kegiatan akademik berskala internasional dapat dikembangkan di luar pusat-pusat pendidikan tinggi yang berada di kota besar.

Melalui dukungan teknologi dan jejaring kelembagaan, daerah kepulauan dan perbatasan memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pertukaran pengetahuan lintas negara.

Kehadiran sekitar 160 peserta dari kalangan akademisi, tokoh masyarakat, tokoh adat, praktisi pendidikan, dan mahasiswa pascasarjana mencerminkan luasnya ruang kolaborasi dalam membangun pendidikan Islam yang berkemajuan.

Seminar ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi menjadi langkah awal pengembangan kerja sama akademik yang lebih berkelanjutan antara IAD Probolinggo, STKIP Muhammadiyah Kalabahi, dan mitra pendidikan di Asia Tenggara.

Melalui kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand, transformasi pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, kuat dalam spiritualitas, moderat dalam kehidupan sosial, serta memiliki kemampuan berinovasi dan berkontribusi pada tingkat global.

Dari Kabupaten Alor, semangat kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan Islam yang tidak hanya berakar pada nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban dunia.


Bagikan artikel ini: