Alor, Nusa Tenggara Timur – Transformasi pendidikan Islam menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia. Pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi perlu mendorong lahirnya generasi yang kritis, inovatif, moderat, dan mampu bersaing di tingkat global.
Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar kolaboratif Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo dan STKIP Muhammadiyah Kalabahi bertajuk “Transformasi Pendidikan Islam: Membangun Generasi Unggul, Moderat, dan Berdaya Saing Global dari Kawasan Perbatasan”, yang digelar di Aula STKIP Muhammadiyah Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (31/10/2026).
Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I. dari Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, Dr. Rahmad Nasir, M.Pd. dari STKIP Muhammadiyah Kalabahi, serta Kepala Seksi Pendidikan Islam Kementerian Agama Kabupaten Alor, Hadi Abdul Aziz Kammis, S.H., M.Pd.
Kegiatan tersebut dihadiri tokoh agama, Badan Pembina Harian (BPH), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Alor, serta sivitas akademika STKIP Muhammadiyah Kalabahi.
Pendidikan Islam Tidak Cukup Hanya Mentransfer Pengetahuan
Dalam pemaparannya, Benny Prasetiya mengangkat materi “Transformasi Pendidikan Islam: Dari Tradisi Menuju Inovasi.” Ia menyoroti perlunya perubahan mendasar dalam orientasi pendidikan Islam agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
Menurut Benny, pendidikan Islam memiliki kekayaan tradisi keilmuan dan nilai spiritual yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter. Namun, kekuatan tradisi tersebut perlu dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih terbuka, kreatif, dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Perubahan paradigma pendidikan menjadi penting karena tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan perubahan sosial menuntut lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik dengan kompetensi yang lebih luas.
Dalam materi presentasinya, Benny menguraikan empat arah transformasi pendidikan Islam, yakni perubahan dari transfer ilmu menuju kemampuan berpikir kritis, dari penguasaan pengetahuan menuju pengembangan kreativitas dan inovasi, dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran digital dan kolaboratif, serta dari orientasi kelulusan menuju karya dan kontribusi bagi masyarakat.
Keempat arah perubahan tersebut menempatkan peserta didik bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai subjek pembelajaran yang mampu mengembangkan gagasan, menemukan solusi, dan menghasilkan karya.
Benny juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai keislaman. Kemajuan teknologi tidak boleh menggeser dimensi kemanusiaan, spiritualitas, dan pembentukan karakter yang menjadi bagian penting dari pendidikan Islam.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan global.
Kawasan Perbatasan Memiliki Peluang Membangun Pendidikan Unggul
Persoalan akses dan kualitas pendidikan di kawasan perbatasan turut menjadi perhatian dalam seminar tersebut.
Kabupaten Alor, yang berada di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur, memiliki karakteristik geografis dan sosial budaya yang berbeda dengan wilayah perkotaan. Kondisi tersebut menuntut pengembangan pendidikan yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat sekaligus membuka akses terhadap perkembangan pengetahuan global.
Dalam konteks ini, Benny memandang penguatan kualitas pendidik, inovasi pembelajaran, dan kerja sama antarlembaga sebagai faktor penting untuk mempercepat transformasi pendidikan.
Pendidikan di kawasan perbatasan perlu dikembangkan dengan memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber pembelajaran. Kekayaan budaya, keberagaman masyarakat, dan nilai-nilai sosial dapat menjadi modal dalam membangun pendidikan yang kontekstual dan berkarakter.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital memungkinkan lembaga pendidikan memperluas sumber belajar, mengembangkan kolaborasi akademik, serta mengurangi hambatan geografis dalam mengakses pengetahuan.
Transformasi pendidikan, dengan demikian, tidak semata-mata berkaitan dengan penyediaan fasilitas, tetapi juga menyangkut kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan lembaga pendidikan membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Moderasi Beragama Menjadi Bagian Penting Pendidikan
Selain penguatan kompetensi akademik, seminar tersebut juga menempatkan moderasi beragama sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan pendidikan Islam.
Kehadiran Kasi Pendis Kementerian Agama Kabupaten Alor, Hadi Abdul Aziz Kammis, memperkuat pembahasan mengenai hubungan antara pendidikan keagamaan, pembentukan karakter, dan kehidupan masyarakat yang majemuk.
Sebagai daerah yang memiliki keberagaman agama dan budaya, Kabupaten Alor membutuhkan pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap saling menghormati, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam menanamkan pemahaman keagamaan yang moderat sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan.
Sementara itu, keterlibatan Dr. Rahmad Nasir dari STKIP Muhammadiyah Kalabahi memperkuat dimensi pengembangan pendidikan tinggi, khususnya peningkatan kualitas akademik dan kapasitas kelembagaan di wilayah perbatasan.
Perguruan tinggi diharapkan mampu mengambil peran lebih luas, tidak hanya melalui penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang menjawab kebutuhan daerah.
Kolaborasi Perguruan Tinggi untuk Memperluas Akses Pendidikan
Seminar kolaboratif ini sekaligus menjadi ruang penguatan hubungan akademik antara IAD Probolinggo dan STKIP Muhammadiyah Kalabahi.
Kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi dinilai penting untuk membuka peluang pengembangan kompetensi dosen, peningkatan kualifikasi akademik, penelitian bersama, inovasi pembelajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi perguruan tinggi di kawasan perbatasan, pengembangan jejaring akademik menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan peran Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam memperkuat pendidikan sebagai bagian dari gerakan Islam berkemajuan.
Kehadiran unsur persyarikatan Muhammadiyah, 'Aisyiyah, tokoh agama, pemerintah, dan kalangan akademisi dalam kegiatan ini memperlihatkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam membangun pendidikan yang berkualitas.
Melalui seminar tersebut, IAD Probolinggo dan STKIP Muhammadiyah Kalabahi mendorong pengembangan pendidikan Islam yang tidak hanya mempertahankan kekuatan tradisi keilmuan, tetapi juga responsif terhadap perubahan zaman.
Transformasi pendidikan Islam di kawasan perbatasan diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi lahirnya generasi yang memiliki kedalaman spiritual, kecakapan intelektual, karakter moderat, serta kemampuan menghasilkan karya dan kontribusi bagi masyarakat.