TANGERANG, 24 Oktober 2026 – Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya mutu dan meningkatkan kualitas tata kelola pendidikan tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi dalam kegiatan Sosialisasi Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti), Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), dan Diferensiasi Misi Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APMU PTMA) pada Jumat–Sabtu, 23–24 Oktober 2026, bertempat di Hotel Golden Tulip Essential, Tangerang, Banten.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam menyelaraskan pemahaman mengenai kebijakan pendidikan tinggi, memperkuat implementasi sistem penjaminan mutu, serta mengembangkan arah kelembagaan yang sesuai dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing perguruan tinggi.
Bagi Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem tata kelola yang berorientasi pada peningkatan mutu akademik dan nonakademik secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan komitmen institusi untuk menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang berkualitas, akuntabel, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Rektor Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, Assoc. Prof. Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I., menempatkan penguatan budaya mutu sebagai salah satu prioritas penting dalam pengembangan kelembagaan. Partisipasi dalam forum penjaminan mutu ini menjadi bagian dari langkah strategis institusi dalam memperkuat pemahaman terhadap kebijakan pendidikan tinggi sekaligus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.
Memperkuat Implementasi SPMI melalui Siklus PPEPP
Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam kegiatan sosialisasi ini adalah penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai fondasi utama dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang berkualitas.
Melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan), perguruan tinggi memiliki mekanisme sistematis untuk memastikan bahwa standar pendidikan tinggi tidak hanya ditetapkan dalam bentuk dokumen, tetapi juga dilaksanakan, dievaluasi, dikendalikan, dan ditingkatkan secara konsisten.
Bagi Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, implementasi siklus PPEPP menjadi bagian penting dalam membangun sistem penjaminan mutu yang terintegrasi pada seluruh unit kerja dan program studi.
Penguatan tersebut mencakup peningkatan efektivitas Audit Mutu Internal (AMI), pelaksanaan monitoring dan evaluasi pembelajaran, penguatan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM), serta pemantauan rencana tindak lanjut atas berbagai hasil evaluasi mutu.
Melalui pendekatan tersebut, sistem penjaminan mutu diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pemenuhan standar, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan kelembagaan yang berbasis data, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Diferensiasi Misi sebagai Arah Pengembangan Perguruan Tinggi
Selain membahas kebijakan SN Dikti dan penguatan SPMI, forum ini juga memberikan perhatian pada pentingnya diferensiasi misi perguruan tinggi.
Diferensiasi misi menjadi pendekatan strategis dalam mendorong setiap perguruan tinggi untuk mengembangkan keunggulan institusional berdasarkan visi, karakteristik, kapasitas, serta kebutuhan masyarakat yang dilayani.
Bagi Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, pemahaman terhadap diferensiasi misi dapat menjadi landasan dalam memperkuat arah pengembangan kelembagaan, meningkatkan relevansi program pendidikan, serta mengoptimalkan kontribusi institusi melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai bagian dari jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), Institut Ahmad Dahlan Probolinggo juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan, mengedepankan kualitas akademik, serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan masyarakat.
Oleh karena itu, penguatan sistem penjaminan mutu dan diferensiasi misi perlu berjalan secara selaras agar pengembangan institusi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan standar, tetapi juga pada pencapaian keunggulan dan kebermanfaatan yang berkelanjutan.
Dari Pemenuhan Standar Menuju Budaya Mutu Berkelanjutan
Keikutsertaan Institut Ahmad Dahlan Probolinggo dalam kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum untuk memperkuat paradigma penjaminan mutu, dari yang semula berfokus pada pemenuhan dokumen menuju pengembangan budaya mutu yang melekat dalam setiap proses penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Budaya mutu menuntut keterlibatan seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari pimpinan institusi, lembaga penjaminan mutu, fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Melalui keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, standar mutu diharapkan dapat diterapkan secara konsisten dan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam meningkatkan kualitas institusi.
Forum yang diselenggarakan APMU PTMA ini juga menjadi sarana untuk memperluas jejaring antarlembaga penjaminan mutu perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Pertukaran pengalaman dan praktik baik (best practices) diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam penguatan tata kelola penjaminan mutu yang lebih efektif, adaptif, dan berorientasi pada hasil.
Memperkuat Langkah Strategis Menuju Kampus Unggul dan Berdampak
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi pada 23–24 Oktober 2026, Institut Ahmad Dahlan Probolinggo diharapkan dapat mengoptimalkan hasil pembelajaran dan pertukaran pengalaman untuk memperkuat kebijakan serta implementasi penjaminan mutu internal.
Langkah tersebut dapat diwujudkan melalui peninjauan dan penyelarasan dokumen SPMI, penguatan instrumen evaluasi mutu, optimalisasi pelaksanaan AMI, peningkatan efektivitas RTM, serta pemantauan tindak lanjut hasil evaluasi pada tingkat institusi maupun program studi.
Penguatan ini menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan program pengembangan institusi dilaksanakan secara terukur, dievaluasi secara objektif, dan diarahkan pada peningkatan kualitas yang berkesinambungan.
Di bawah kepemimpinan Rektor Assoc. Prof. Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I., Institut Ahmad Dahlan Probolinggo terus berupaya membangun tata kelola pendidikan tinggi yang profesional, akuntabel, dan berlandaskan prinsip perbaikan mutu berkelanjutan.
Partisipasi dalam forum nasional APMU PTMA ini sekaligus mempertegas komitmen Institut Ahmad Dahlan Probolinggo untuk terus meningkatkan kualitas kelembagaan, memperkuat sinergi antarperguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, serta menghadirkan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui penguatan SPMI, penerapan siklus PPEPP, dan pengembangan diferensiasi misi, Institut Ahmad Dahlan Probolinggo terus melangkah mewujudkan perguruan tinggi yang unggul, berkemajuan, berbudaya mutu, dan berdampak nyata bagi masyarakat.(Wiji/Huda)