
Probolinggo, 29 April 2025 — Dalam upaya memperjuangkan hak pendidikan yang setara bagi penyandang disabilitas, Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDIS) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Probolinggo menggelar audiensi di Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo. Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan pendidikan inklusif di tingkat perguruan tinggi, khususnya bagi masyarakat disabilitas di wilayah Probolinggo.

Acara yang dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa IAD ini dibuka dengan sambutan dari perwakilan BAPPEDA, Bapak Yanuar, S.Sos., M.M., yang menekankan pentingnya keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di lingkungan kampus. Beliau menegaskan bahwa ULD merupakan bagian dari komitmen pemerintah kota dalam mendukung program kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui peningkatan akses pendidikan. “Pendidikan tinggi membuka peluang kerja yang lebih luas. Maka dari itu, teman-teman disabilitas harus diberikan kesempatan yang sama untuk meraih gelar sarjana,” ujar Yanuar.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan PPDIS, Achmad Faiz. Berdasarkan survei yang dilakukan di enam kelurahan di Kota Probolinggo, ditemukan bahwa sebagian besar penyandang disabilitas belum mendapatkan akses ke pendidikan tinggi. “Kami berharap IAD bisa menjadi bagian dari penyelenggaraan pendidikan inklusif agar inklusivitas sosial benar-benar tercipta,” ungkapnya.

Dukungan positif juga datang dari pihak kampus, yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Ibu Aries Dirgayunita, M.Psi., Psikolog. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada IAD sebagai tuan rumah audiensi. “Kami berharap IAD bisa berperan aktif dalam mendukung lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas di dunia pendidikan,” ujarnya.
Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi interaksi dan pembelajaran bersama teman-teman disabilitas. Dalam sesi ini, dosen, mahasiswa, dan peserta audiensi lainnya diajak untuk memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi yang baik dengan penyandang tunanetra dan tunarungu. Sesi ini berlangsung hangat dan penuh semangat, memperkuat semangat inklusivitas yang menjadi tujuan utama kegiatan.

Audiensi ini menjadi langkah awal yang positif dalam mendorong terwujudnya sistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif di Kota Probolinggo, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas disabilitas.