
IAD.Co – Kegiatan Pendampingan Akademik bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo, menjadi bagian penting dari upaya strategis institusi dalam meningkatkan mutu tata kelola akademik dan daya saing perguruan tinggi. Kegiatan ini dibuka oleh Assoc. Prof. Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I, Rektor IAD Probolinggo yang dalam sambutannya menekankan pentingnya pengembangan kampus yang berorientasi pada mutu, inovasi, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital dan globalisasi.
“Dengan adanya kegiatan pendampingan akademik seperti ini, diharapkan mampu memperkuat kapasitas dosen dan tenaga kependidikan Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo dalam memahami, mengimplementasikan, serta mengevaluasi kebijakan akademik secara lebih komprehensif dan kontekstual. Pendampingan ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang peningkatan kompetensi profesional, tetapi juga sebagai wadah refleksi dan penyelarasan visi antara pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dalam menghadapi dinamika kebijakan kampus yang terus berkembang”. Ungkap Rektor

Melalui penguatan wawasan akademik, inovasi pembelajaran, serta pemahaman terhadap strategi pengembangan institusi, sivitas akademika dituntut mampu secara proaktif beradaptasi terhadap perubahan, sekaligus menjaga stabilitas mutu akademik. Sehingga implementasi kebijakan akademik di IAD Probolinggo dapat berjalan secara efektif, terarah, dan berkelanjutan, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan tata kelola perguruan tinggi yang unggul, responsif, dan berdaya saing.
Narasumber dalam kegiatan pendampingan akademik ini, yaitu Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Ahsanul In’am, PhD, memaparkan strategi pengembangan institusi yang relevan dengan dinamika pendidikan tinggi saat ini. Dalam paparannya, beliau menjelaskan pentingnya penerapan Micro Credential sebagai bentuk inovasi pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan dunia kerja, serta konsep Mirror Class sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui kolaborasi dan penyelarasan standar akademik antarperguruan tinggi. Strategi tersebut dinilai mampu memperluas akses pembelajaran, meningkatkan kompetensi lulusan, serta memperkuat jejaring akademik antar institusi.
“Perguruan tinggi saat ini dituntut untuk memiliki kerja sama yang luas. Tidak cukup hanya Memorandum of Understanding (MoU), melainkan Memorandum of Agreement (MoA), sebagai bukti nyata bentuk kerja sama dengan pihak lain. Dan itu akan berdampak positif terhadap penilaian akreditasi”. Ujarnya

Lebih lanjut, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan materi terkait pendekatan pembelajaran inovatif, khususnya Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL). Kedua pendekatan tersebut dipaparkan sebagai model pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, mendorong kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kreativitas, yang selaras dengan tuntutan capaian pembelajaran lulusan di abad ke-21. Melalui penerapan PBL dan PjBL, dosen diharapkan mampu merancang proses pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan permasalahan nyata di masyarakat maupun dunia industri.

Pada bagian akhir materi, Prof. Ahsanul In’am, PhD, menegaskan pentingnya penguatan kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai fondasi utama dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi. Kerja sama tersebut mencakup bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pertukaran dosen dan mahasiswa, yang diharapkan mampu meningkatkan reputasi institusi, memperluas wawasan sivitas akademika, dan mempercepat pencapaian visi IAD Probolinggo sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing. Kegiatan pendampingan akademik ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam membangun budaya akademik yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu. (mjk)