
Probolinggo, 16 Januari 2026 – Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo hari ini menyelenggarakan konferensi internasional ICONIHUM 3 2026 dengan tema “Islam, Humanity, and Modernity: Rethinking Knowledge, Culture, and Civilization.” Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yakni Prof. Dr. Bakri Mohammed Bakheit dari University of the Holy Qur’an Islamic Sciences Sudan, Prof. Dr. Faisol Mahmud Adam dari University of the Holy Qur’an Islamic Sciences Sudan, serta Prof. Dr. Sulaiman Hassan Sulaiman, utusan dari Libya sekaligus dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Konferensi ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika IAD Probolinggo untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perdamaian Islam dalam konteks global. Kegiatan ini juga sejalan dengan visi kampus dalam membentuk generasi muda Islam yang berwawasan luas, mencintai kedamaian, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Bakri Mohammed Bakheit menekankan bahwa pengetahuan merupakan landasan utama peradaban. Beliau mengutip prinsip dasar Islam, yakni perintah membaca (Iqra’), serta kisah bagaimana Allah SWT mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam AS sebagai simbol awal pengetahuan manusia. Menurutnya, ilmu adalah kunci untuk membangun peradaban yang berkualitas. Prof. Bakri juga menjelaskan empat sumber utama pengetahuan dalam epistemologi Islam, yaitu wahyu (Al-Qur’an dan Hadis), akal, pancaindra, serta pengalaman atau eksperimen sebagai bentuk pembuktian empiris.

Selanjutnya, Prof. Dr. Faisol Mahmud Adam membahas ketaatan asas dalam Islam sebagai fondasi kehidupan individu dan peradaban. Beliau menegaskan bahwa Islam adalah ajaran tauhid yang menekankan kesatuan asal-usul manusia, di mana seluruh umat manusia berasal dari Nabi Adam AS, sehingga pada hakikatnya semua manusia setara dalam kemanusiaan. Prof. Faisol menjelaskan bahwa keselamatan dan kemuliaan manusia hanya dapat diraih melalui ketundukan penuh kepada Allah SWT, dengan menjadikan wahyu sebagai kebenaran mutlak, bukan akal, ideologi, atau penafsiran bebas yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar dari kehidupan yang berkualitas, karena dengan itu kita mengarahkan diri kepada tujuan yang mulia dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Sulaiman Hassan Sulaiman menyoroti krisis pendidikan modern dan ancaman hilangnya identitas generasi muda akibat invasi budaya, dominasi teknologi, serta pola pikir imitasi yang melemahkan karakter dan kemandirian berpikir. Menurutnya, arus globalisasi dan informasi yang tidak terfilter menuntut adanya penataan ulang sistem pendidikan agar mampu melindungi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Sebagai solusi, Prof. Dr. Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam, penguasaan ilmu pengetahuan, serta pembentukan mentalitas pembelajar sejati. Beliau menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam membawa peradaban Islam ke dunia modern dengan menunjukkan keahlian sesuai bidang keilmuannya masing-masing, serta mengintegrasikan nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Melalui sikap, perilaku, dan kontribusi nyata, mahasiswa harus menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin yang membawa kedamaian dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia,” tegasnya.
Konferensi ini bertujuan untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara Islam dan modernitas dalam konteks peradaban dunia kontemporer. Peserta konferensi diharapkan dapat menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dengan perkembangan peradaban modern dapat berjalan seiring, dengan tetap berpegang pada prinsip kebaikan, tauhid, dan perdamaian.

ICONIHUM 3 2026 diharapkan menjadi titik awal bagi diskusi akademik berkelanjutan serta penerapan gagasan strategis yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan sejahtera.